Download IDM crack
bagi anda yang tak ingin repot membayar IDM untuk full versionnya bisa
mendownload crack nya disini.berikut petunjuk download nya:
1.buka installer IDM nya
2.install IDM nya
3.buka Crack
4.Crack lah IDM
5.buka IDM dan selesai dah
Tuesday, 22 October 2013
Sunday, 6 October 2013
Negara berkembang
A. PENGERTIAN NEGARA BERKEMBANG
Negara berkembang adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan dan mengkategorikan negara-negara di dunia yang memiliki standar hidup relatif rendah, sektor industri yang kurang berkembang, skor Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI) berada pada tingkat menengah ke bawah, serta rendahnya pendapatan perkapita. Negara yang dikategorikan sebagai negara berkembang adalah negara yang belum mencapai tingkat negara maju, tetapi bukan negara gagal (failed state). Dengan kata lain, negara berkembang berada di antara negara maju (tingkat teratas) dengan negara gagal (tingkat terendah).
Negara berkembang yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih maju dibandingkan negara lain yang setingkat, tetapi belum mencapai tingkat negara maju disebut negara industri baru (newly industrialized country/NICs). Dengan kata lain, negara industri baru sedang berkembang mencapai tingkat negara maju tetapi belum cukup untuk disebut sebagai negara maju. Negara-negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi relatif stabil dalam jangka waktu lama, juga dapat digolongkan sebagai negara industri baru.
Beberapa negara yang masuk kategori negara industri baru, antara lain ; Argentina, Brasil, Meksiko, China (termasuk Taiwan dan Hongkong), Singapura, Korea Selatan, Yunani, Spanyol, dan Portugal.
Sebagian besar negara di dunia, yakni sekitar 76% dikategorikan sebagai negara berkembang. Negara-negara tersebut adalah sebagian besar negara di Afrika, Amerika Tengah, dan sebagian negara di Laut Karibia. Termasuk juga negara-negara Arab, serta sebagian besar negara Asia Tenggara.
Di luar kategori negara berkembang dan negara maju, ada beberapa negara yang dikelompokkan sebagai negara gagal (failed state). Negara-negara ini
masih menghadapi perang sipil serta memiliki penguasa yang otoriter. Misalnya, Afghanistan, Haiti, Somalia, Myanmar, Irak, dan Korea Utara.
Menurut data The World Bank, yang termasuk negara sedang berkembang (digolongkan menurut wilayahnya) adalah sebagai berikut :
1. Negara-negara di AFRIKA
2. Negara-negara di AMERIKA UTARA, TENGAH, dan KARIBIA
3. Negara-negara di AMERIKA SELATAN
4. Negara-negara di ASIA
5. Negara-negara di OSEANIA
Negara-negara berkembang terus menghadapi tantangan untuk bertumbuh menjadi negara maju, atau mengalami kemunduran dan menjadi negara gagal.
Beberapa ciri utama negara berkembang dapat diberikan di bawah ini :
Negara berkembang adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan dan mengkategorikan negara-negara di dunia yang memiliki standar hidup relatif rendah, sektor industri yang kurang berkembang, skor Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI) berada pada tingkat menengah ke bawah, serta rendahnya pendapatan perkapita. Negara yang dikategorikan sebagai negara berkembang adalah negara yang belum mencapai tingkat negara maju, tetapi bukan negara gagal (failed state). Dengan kata lain, negara berkembang berada di antara negara maju (tingkat teratas) dengan negara gagal (tingkat terendah).
Negara berkembang yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih maju dibandingkan negara lain yang setingkat, tetapi belum mencapai tingkat negara maju disebut negara industri baru (newly industrialized country/NICs). Dengan kata lain, negara industri baru sedang berkembang mencapai tingkat negara maju tetapi belum cukup untuk disebut sebagai negara maju. Negara-negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi relatif stabil dalam jangka waktu lama, juga dapat digolongkan sebagai negara industri baru.
Beberapa negara yang masuk kategori negara industri baru, antara lain ; Argentina, Brasil, Meksiko, China (termasuk Taiwan dan Hongkong), Singapura, Korea Selatan, Yunani, Spanyol, dan Portugal.
Sebagian besar negara di dunia, yakni sekitar 76% dikategorikan sebagai negara berkembang. Negara-negara tersebut adalah sebagian besar negara di Afrika, Amerika Tengah, dan sebagian negara di Laut Karibia. Termasuk juga negara-negara Arab, serta sebagian besar negara Asia Tenggara.
Di luar kategori negara berkembang dan negara maju, ada beberapa negara yang dikelompokkan sebagai negara gagal (failed state). Negara-negara ini
masih menghadapi perang sipil serta memiliki penguasa yang otoriter. Misalnya, Afghanistan, Haiti, Somalia, Myanmar, Irak, dan Korea Utara.
Menurut data The World Bank, yang termasuk negara sedang berkembang (digolongkan menurut wilayahnya) adalah sebagai berikut :
1. Negara-negara di AFRIKA
| 1. Angola | 19. Mali |
| 2. Benin | 20. Malawi |
| 3. Botswana | 21. Mauritius |
| 4. Burkina Faso | 22. Marocco |
| 5. Burundi | 23. Mouzambique |
| 6. Kamerun | 24. Namibia |
| 7. Chad | 25. Nigeria |
| 8. Pantai Gading | 26. Rwanda |
| 9. Kongo | 27. Senegal |
| 10. Djibouti | 28. Sierra Leone |
| 11. Mesir | 29. Somalia |
| 12. Ethiopia | 30. Afrika Selatan |
| 13. Gabon | 31. Sudan |
| 14. Ghana | 32. Tanzania |
| 15. Kenya | 33. Togo |
| 16. Lesotho | 34. Tunisia |
| 17. Liberia | 35. Uganda |
| 18. Libya | 36. Zimbabwe |
2. Negara-negara di AMERIKA UTARA, TENGAH, dan KARIBIA
| 1. Bahamas | 8. Haiti |
| 2. Barbados | 9. Honduras |
| 3. Costa Rica | 10. Jamaica |
| 4. Cuba | 11. Nicaragua |
| 5. Rep. Dominika | 12. Panama |
| 6. El Salvador | 13. Trinidad Tobago |
| 7. Guatemala |
3. Negara-negara di AMERIKA SELATAN
| 1. Bolivia | 6. Peru |
| 2. Colombia | 7. Suriname |
| 3. Chile | 8. Uruguay |
| 4. Equador | 9. Venezuela |
| 5. Paraguay | 10. Guyana |
4. Negara-negara di ASIA
| 1. Afghanistan | 16. Mongolia |
| 2. Bahrain | 17. Nepal |
| 3. Bangladesh | 18. Korea Utara |
| 4. Brunei | 19. Oman |
| 5. Burma | 20. Pakistan |
| 6. cambodia | 21. Filipina |
| 7. India | 22. Qatar |
| 8. Indonesia | 23. Saudi Arabia |
| 9. Iran | 24. Sri Lanka |
| 10. Iraq | 25. Syria |
| 11. Jordania | 26. Thailand |
| 12. Kuwait | 27. Timor Leste |
| 13. Laos | 28. UAE |
| 14. Lebanon | 29. Vietnam |
| 15. Malaysia | 30. Yaman |
5. Negara-negara di OSEANIA
| 1. Samoa | 6. Kep. Marshal |
| 2. Pulau chrismast | 7. Micronesia |
| 3. Fiji | 8. Nauru |
| 4. Polynesia | 9. Kep. Mariana |
| 5. Guam | 10. Papua New Guiena |
Negara-negara berkembang terus menghadapi tantangan untuk bertumbuh menjadi negara maju, atau mengalami kemunduran dan menjadi negara gagal.
Beberapa ciri utama negara berkembang dapat diberikan di bawah ini :
- Sebagian besar penduduk (>70%) bekerja di sektor pertanian.
- Industrinya biasanya berlatarbelakang agraris, terutama memanfaatkan hasil kehutanan, pertanian, dan perikanan (industri sektor pertama dan sektor kedua).
- Tenaga pertanian masih mengandalkan tenaga kerja manusia.
- Luas lahan garapan relatif sempit dengan teknologi yang sederhana sehingga hasilnya tidak maksimal.
- Pendapatan per kapita rendah.
- Angka kelahiran dan kematian masih tinggi.
- Tingginya angka pengangguran karena besarnya jumlah penduduk dan terbatasnya lapangan pekerjaan.
- Pendidikan formal tersebar secara tidak merata dengan kualitas yang buruk.
- Kelebihan jumlah penduduk yang menyebabkan tidak terjangkau atau tidak meratanya pelayanan sosial.
- Kedudukan dan peran wanita sangat terbatas dan cenderung dipandang sebagai kelas dua.
Saturday, 5 October 2013
Sejarah mengenai perang dunia 2
SUMBER : Dari Wikipedia
bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
"PDII" beralih ke
halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat WWII (disambiguasi). Untuk sejarah
Winston Churchill, lihat The Second World War (seri buku).
|
||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||
Perang Dunia II, atau Perang Dunia
Kedua (biasa disingkat menjadi PDII atau PD2),
adalah sebuah perang global yang berlangsung mulai
tahun 1939 sampai 1945. Perang ini melibatkan banyak sekali negara di dunia —termasuk
semua kekuatan besar—yang
pada akhirnya membentuk dua aliansi militer yang saling bertentangan: Sekutu dan Poros. Perang ini merupakan perang terluas
dalam sejarah yang melibatkan lebih dari 100 juta orang di berbagai
pasukan militerDalam keadaan "perang total", negara-negara besar
memaksimalkan seluruh kemampuan ekonomi, industri, dan ilmiahnya untuk
keperluan perang, sehingga menghapus perbedaan antara sumber daya sipil dan
militer. Ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian
massal warga sipil, termasuk Holocaust dan pemakaian
senjata nuklir dalam peperangan, perang ini memakan korban jiwa
sebanyak 50 juta sampai 70 juta jiwa. Jumlah kematian ini menjadikan
Perang Dunia II konflik paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia.[1]
Kekaisaran Jepang berusaha
mendominasi Asia Timur dan
sudah memulai perang dengan Republik Cina pada
tahun 1937,[2] tetapi perang dunia secara umum
pecah pada tanggal 1 September 1939 dengan invasi ke Polandia oleh Jermanyang diikuti serangkaian pernyataan
perang terhadap Jerman oleh Perancis dan Britania. Sejak akhir 1939 hingga awal 1941,
dalam serangkaian kampanye dan perjanjian,
Jerman membentuk aliansi Poros bersama Italia, menguasai atau menaklukkan sebagian
besar benua Eropa. Setelah Pakta Molotov–Ribbentrop, Jerman dan Uni
Soviet berpisah dan menganeksasi wilayah negara-negara tetangganya sendiri di
Eropa, termasuk Polandia.
Britania Raya, dengan imperiumdan Persemakmurannya,
menjadi satu-satunya kekuatan besar Sekutu yang terus berperang melawan blok
Poros, dengan mengadakan pertempuran di Afrika
Utara dan Pertempuran
Atlantik. Bulan Juni 1941, Poros Eropa melancarkan invasi terhadap
Uni Soviet yang menandakan terbukanya teater perang
darat terbesar sepanjang sejarah, yang melibatkan sebagian besar
pasukan militer Poros sampai akhir perang. Pada bulan Desember 1941, Jepang
bergabung dengan blok Poros, menyerang Amerika
Serikat dan teritori Eropa di Samudra Pasifik, dan dengan cepat menguasai
sebagian besar Pasifik Barat.
Serbuan Poros berhenti tahun 1942, setelah
Jepang kalah dalam berbagai pertempuran laut dan tentara Poros Eropa dikalahkan
di Afrika Utara dan Stalingrad.
Pada tahun 1943, melalui serangkaian kekalahan Jerman di Eropa Timur, invasi Sekutu ke
Italia, dan kemenangan Amerika Serikat di Pasifik, Poros kehilangan inisiatif
mereka dan mundur secara strategis di semua front. Tahun 1944, Sekutu
Barat menyerbu Perancis,
sementara Uni Soviet merebut kembali semua teritori yang pernah dicaplok dan
menyerbu Jerman beserta sekutunya. Perang di Eropa berakhir dengan pendudukan Berlin oleh
tentara Soviet dan Polandia dan penyerahan tanpa syarat Jerman pada tanggal 8 Mei 1945.
Sepanjang 1944 dan 1945, Amerika Serikat mengalahkan Angkatan Laut Jepang dan
menduduki beberapa pulau di Pasifik Barat, menjatuhkan bom atom di negara itu
menjelang invasi ke Kepulauan Jepang.
Uni Soviet kemudian mengikuti melalui negosiasi dengan menyatakan perang
terhadap Jepang dan menyerbu
Manchuria. Kekaisaran Jepang menyerah pada tanggal 15 Agustus
1945, sehingga mengakhiri perang di Asia dan memperkuat kemenangan total Sekutu
atas Poros.
Perang Dunia II mengubah haluan politik
dan struktur sosial dunia. Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) didirikan untuk memperkuat kerja sama
internasional dan mencegah konflik-konflik yang akan datang. Para kekuatan
besar yang merupakan pemenang perang—Amerika Serikat, Uni Soviet, Cina,
Britania Raya, dan Perancis—menjadi anggota permanen Dewan
Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.[3] Uni Soviet dan Amerika Serikat
muncnul sebagai kekuatan super yang saling bersaing dan mendirikan
panggung Perang Dunia yang
kelak bertahan selama 46 tahun selanjutnya. Sementara itu, pengaruh
kekuatan-kekuatan besar Eropa mulai melemah, dan dekolonisasi
Asia dan Afrika dimulai.
Kebanyakan negara yang industrinya terkena dampak buruk muali menjlaani pemulihan ekonomi. Integrasi politik,
khususnya di
Eropa, muncul sebagai upaya untuk menstabilkan hubungan pascaperang.
[
Awal terjadinya perang umumnya disetujui pada
tanggal 1 September 1939, dimulai dengan invasi Jerman ke Polandia; Britania dan
Perancis menyatakan perang terhadap Jerman dua hari kemudian. Tanggal lain
mengenai awal perang ini adalah dimulainya Perang Cina-Jepang
Kedua pada 7 Juli 1937.[4][5]
Lainnya mengikuti sejarawan Britania
Raya A.
J. P. Taylor, yang percaya bahwa Perang Cina-Jepang dan perang di
Eropa beserta koloninya terjadi bersamaan dan dua perang ini bergabung pada
tahun 1941. Artikel ini memakai penanggalan konvesional. Tanggal-tanggal awal
lainnya yang sering dipakai untuk Perang Dunia II juga meliputi invasi Italia
ke Abisiniapada tanggal 3 Oktober 1935.[6] Sejarawan Britania raya Antony
Beevor memandang awal Perang Dunia Kedua terjadi saat Jepang
menyerbu Manchuria bulan Agustus 1939.[7]
Tanggal pasti akhir perang juga tidak
disetujui secara universal. Dari dulu disebutkan bahwa perang berakhir saatgencatan senjata 14 Agustus 1945 (V-J Day),
alih-alih penyerahan diri resmi Jepang (2 September 1945); di sejumlah
teks sejarah Eropa, perang ini berakhir pada V-E Day (8 Mei
1945). Meski begitu, Perjanjian Damai
dengan Jepang baru ditandatangani pada tahun 1951,[8] dan dengan Jerman pada tahun 1990.[9]
Latar
belakang[sunting]
Perang Dunia I membuat perubahan
besar pada peta politik, dengan kekalahan Blok Sentral, termasuk Austria-Hongaria, Jerman, dan Kesultanan Utsmaniyah;
dan perebutan kekuasaan oleh Bolshevik di Rusia pada
tahun 1917. Sementara itu, negara-negara Sekutu yang menang seperti Perancis,
Belgia, Italia, Yunani, dan Rumania memperoleh wilayah baru, dan negara-negara
baru tercipta setelah runtuhnya Austria-Hongaria, Kekaisaran Rusia, dan Kesultanan Utsmaniyah.
Meski muncul gerakan pasifis setelah
perang,[10][11] kekalahan ini masih membuat
nasionalisme iredentis dan revanchispemain
utama di sejumlah negara Eropa. Iredentisme dan revanchisme punya pengaruh kuat
di Jerman karena kehilangan teritori, koloni, dan keuangan yang besar
akibat Perjanjian Versailles.
Menurut perjanjian ini, Jerman kehilangan 13 persen wilayah dalam negerinya dan
seluruh koloninya di luar negeri, sementara Jerman
dilarang menganeksasi negara lain, harus membayar biaya perbaikan perang, dan
membatasi ukuran dan kemampuan angkatan bersenjata negaranya.[12] Pada saat yang sama, Perang Saudara Rusia berakhir
dengan terbentuknya Uni Soviet.[13]
Kekaisaran Jerman bubar melalui Revolusi Jerman 1918–1919 dan sebuah
pemerintahaan demokratis yang kemudian dikenal dengan nama Republik Weimar dibentuk. Periode
antarperang melibatkan kerusuhan antara pendukung republik baru ini dan
penentang garis keras atas sayap kanan maupun kiri.
Walaupun Italia selaku sekutu Entente berhasil merebut sejumlah wilayah, kaum
nasionalis Italia marah mengetahui janji-janji Britania dan Perancis yang
menjamin masuknya Italia ke kancah perang tidak dipenuhi dengan penyelesaian
damai. Sejak 1922 sampai 1925, gerakan Fasis pimpinan Benito Mussolini berkuasa di Italia
dnegan agenda nasionalis, totalitarian, dan kolaborasionis kelas yang menghapus
demokrasi perwakilan, penindasan sosialis, kaum sayap kiri dan liberal, dan
mengejar kebijakan luar negeri agresif yang berusaha membawa Italia sebagai
kekuatan dunia—"Kekaisaran Romawi Baru".[14]
Di Jerman, Partai Nazi yang dipimpin Adolf Hitler berupaya mendirikan
pemerintahan fasis di Jerman. Setelah Depresi Besar dimulai, dukungan dalam
negeri untuk Nazi meningkat dan, pada tahun 1933, Hitler ditunjuk sebagai
Kanselir Jerman. Setelah kebakaran Reichstag,
Hitler menciptakan negara satu partai totalitarian yang dipimpin Partai Nazi.[15].
Parati Kuomintang (KMT) di Cina
melancarkan kampanye
penyatuan melawan panglima perang regional dan secara nominal
berhasil menyatukan Cina pada pertengahan 1920-an, tetapi langsung terlibat
dalam perang saudara melawan
bekas sekutunya yang komunis.[16] Pada tahun 1931, Kekaisaran Jepang yang semakin militaristik, yang sudah lama berusaha
memengaruhi Cina[17] sebagai tahap pertama dari apa
yang disebut pemerintahnya sebagai hak untuk menguasai Asia, memakai Insiden Mukden sebagai alasanmelancarkan
invasi ke Manchuria dan mendirikan negara boneka Manchukuo.[18]
Terlalu lemah melawan Jepang, Cina meminta
bantuan Liga Bangsa-Bangsa.
Jepang menarik diri dari Liga Bangsa-Bangsa setelah dikecam atas tindakannya terhadap
Manchuria. Kedua negara ini kemudian bertempur di Shanghai, Rehe,
dan Hebei sampai Gencatan Senjata Tanggu ditandatangani
tahun 1933. Setelah itu, pasukan voluntir Cina melanjutkan pemberontakan
terhadap agresi Jepang di Manchuria,
dan Chahar dan Suiyuan.[19]
Benito Mussolini (kiri) dan Adolf Hitler (kanan)
Adolf Hitler, setelah upaya gagal menggulingkan pemerintah Jerman tahun
1923, menjadi Kanselir
Jerman pada tahun 1933. Ia menghapus demokrasi, menciptakan revisi
orde baru radikal dan rasis, dan segera memulai kampanye persenjataan kembali.[20]Sementara itu, Perancis, untuk
melindungi aliansinya, memberikan Italia kendali atas Ethiopia yang
diinginkan Italia sebagai jajahan kolonialnya. Situasi ini memburuk pada awal
1935 ketika Teritori Cekungan Saar dengan sah bersatu
kembali dengan Jerman dan Hitler menolak Perjanjian Versailles, mempercepat
program persenjataan kembalinya dan memperkenalkan wajib militer.[21]
Berharap mencegah Jerman, Britania Raya,
Perancis, dan Italia membentuk Front
Stresa. Uni Soviet, khawatir akan keinginan Jerman mencaplok wilayah luas di Eropa Timur,
membuat perjanjian bantuan bersama dengan Perancis. Sebelum diberlakukan,pakta Perancis-Soviet ini perlu melewati
birokrasi Liga Bangsa-Bangsa,
yang pada dasarnya menjadikannya tidak berguna.[22][23]Akan tetapi, pada bulan Juni 1935,
Britania Raya membuat perjanjian laut independen dengan Jerman,
sehingga melonggarkkan batasan-batasan sebelumnya. Amerika Serikat, setelah
mempertimbangkan peristiwa yang terjadi di Eropa dan Asia, mengesahkan Undang-Undang Netralitas pada bulan
Agustus.[24] Pada bulan Oktober, Italia
menginvasi Ethiopia, dan Jerman adalah satu-satunya negara besar Eropa yang
mendukung tindakan tersebut. Italia langsung menarik keberatannya terhadap
tindakan Jerman menganeksasi Austria.[25]
Hitler menolak Perjanjian Versailles
dan Locarno dengan meremiliterisasi Rhineland pada
bulan Maret 1936. Ia mendapat sedikit tanggapan dari kekuatan-kekuatan Eropa
lainnya.[26] Ketika Perang Saudara
Spanyol pecah bulan Juli, Hitler dan Mussolini mendukung pasukan
Nasionalis yang fasis dan otoriter dalam perang saudara mereka
melawan Republik Spanyol yang
didukung Soviet. Kedua pihak memakai konflik ini untuk menguji senjata dan
metode peperangan baru,[27] berakhir dengan kemenangan
Nasionalis pada awal 1939. Bulan Oktober 1936, Jerman dan Italia
membentuk Poros
Roma-Berlin. Sebulan kemudian, Jerman dan Jepang
menandatangani Pakta Anti-Komintern,
namun kelak diikuti Italia pada tahun berikutnya. Di cina, setelah Insiden Xi'an, pasukan Kuomintang dan komunis
menyetujui gencatan senjata untuk membentuk front
bersatu dan sama-sama melawan Jepang.[28]
Sebelum
perang[sunting]
Invasi
Italia ke Ethiopia (1935)[sunting]
Perang Italia-Abisinia Kedua adalah perang
kolonial singkat mulai bulan Oktober 1935 sampai Mei 1936.
Perang ini terjadi antara angkatan bersenjata Kerajaan Italia (Regno d'Italia)
dan angkatan bersenjata Kekaisaran Ethiopia (juga
disebut Abisinia). Perang ini berakhir dengan pendudukan
militer di Ethiopia dan aneksasinya ke
koloni baru Afrika Timur Italia (Africa
Orientale Italiana, atau AOI); selain itu, perang ini membuka
kelemahan Liga Bangsa-Bangsa sebagai
kekuatan pelindung perdamaian. Baik Italia dan Ethiopia adalah negara anggota,
tetapi Liga ini tidak berbuat apa-apa ketika negara pertama jelas-jelas melanggar Artikel X yang dibuat oleh Liga ini.[29]
Perang
Saudara Spanyol (1936-39)[sunting]
Reruntuhan Guernica setelah
dibom.
Jerman dan Italia memberi dukungan
kepada kebangkitan
Nasionalis yang dipimpin Jenderal Francisco Franco di Spanyol. Uni Soviet
mendukung pemerintah yang sudah berdiri, Republik Spanyol,
yang memiliki kecenderungan sayap kiri. Baik Jerman dan Uni Soviet
memakai perang
proksi ini sebagai kesempatan menguji senjata dan taktik baru
mereka. Pengeboman
Guernica yang disengaja oleh Legiun
Condor Jerman pada April 1937 berkontribusi pada kekhawatiran
bahwa perang besar selanjutnya akan melibatkan serangan bom teror besar-besaran
terhadap warga sipil.[30][31]
Invasi
Jepang ke Cina (1937)[sunting]
Sarang senjata mesin Cina
pada Pertempuran Shanghai,
1937.
Pada bulan Juli 1937, Jepang mencaplok
bekas ibu kota kekaisaran Cina Beijing setelah memulai Insiden
Jembatan Marco Polo, yang menjadi batu pijakan kampanye Jepang untuk
menjajah seluruh wilayah Cina.[32] Uni Soviet segera
menandatangani pakta
non-agresi dengan Cina untuk memberi dukungan material yang secara efektif
mengakhiri kerja sama Cina dengan Jermansebelumnya. Generalissimo Chiang Kai-shek mengerahkan pasukan terbaiknya untuk mempertahankan
Shanghai, tetapi setelah tiga bulan bertempur, Shanghai jatuh.
Jepang terus menekan pasukan Cina, mencaplok ibu kota
Nanking pada Desember 1937 dan melakukan Pembantaian Nanking.
Pada bulan Juni 1938, pasukan Jepang
menghentikan serbuan Jepang dengan membanjiri Sungai Kuning; manuver ini memberikan
waktu bagi Cina untuk mempersiapkan pertahanan di Wuhan,
namun kota ini berhasil direbut pada
bulan Oktober.[33] Kemenangan militer Jepang
gagal menghentikan pemberontakan Cina yang menjadi tujuan Jepang. Pemerintahan
Cina pindah ke pedalaman diChongqing dan
melanjutkan perang.[34]
Invasi
Jepang ke Uni Soviet dan Mongolia (1938)[sunting]
Lihat pula: Nanshin-ron dan Konflik
perbatasan Soviet–Jepang
Tentara Soviet memerangi
Jepang padaPertempuran
Khalkhin Gol di Mongolia, 1939.
Pada tanggal 29 Juli 1938, Jepang
menyerbu Uni Soviet dan kalah di Pertempuran Danau
Khasan. Meski pertempuran tersebut dimenangkan Soviet, Jepang
menyebutnya seri dan buntu, dan pada tanggal 11 Mei 1939, Jepang
memutuskan memindahkan perbatasan Jepang-Mongolia sampai Sungai Khalkhin
Gol melalui pemaksaan. Setelah serangkaian keberhasilan awal,
serangan Jepang di Mongolia digagalkan
oleh Pasukan Merah yang menandakan kekalahan besar pertama Angkatan Darat KwantungJepang.[35][36]
Pertempuran ini meyakinkan sejumlah faksi
pemerintahan Jepang bahwa mereka harus fokus berkonsiliasi dengan pemerintah
Soviet demi menghindari ikut campur Soviet dalam perang melawan Cina dan
mengalihkan perhatian militer mereka ke selatan, yaitu ke jajahan Amerika
Serikat dan Eropa di Pasifik, serta mencegah penggulingan pemimpin militer
Soviet berpengalaman seperti Georgy Zhukov, yang kelak memainkan peran
penting dalam mempertahankan Moskwa.[37]
Pendudukan
Eropa dan perjanjian[sunting]
Informasi lebih
lanjut: Anschluss, Penenangan, Perjanjian
Munich, Pendudukan
Jerman di Cekoslowakia, dan Pakta
Molotov-Ribbentrop
Dari kiri ke kanan
(depan): Chamberlain,Daladier,
Hitler, Mussolini,
dan Ciano sebelum
menandatangani Perjanjian Munich.
Di Eropa, Jerman dan Italia semakin keras.
Pada bulan Maret 1938, Jerman menganeksasi Austria, lagi-lagi mendapat sedikit
perhatian dari kekuatan-kekuatan Eropa lainnya.[38] Semakin tertantang, Hitler
mulai menegaskan klaim Jerman atas Sudetenland, wilayah Cekoslowakia yang didominasi oleh etnis
Jerman; dan Perancis dan Britania segera memberikan wilayah ini ke
Jerman melalui Perjanjian
Munich, yang dibuat melawan keinginan pemerintah Cekoslowakia,
dengan imbalan janji tidak meminta wilayah lagi.[39] Sesaat setelah perjanjian ini,
Jerman dan Italia memaksa Cekoslowakia menyerahkan wilayah tambahan ke Hongaria dan Polandia.[40] Pada bulan Maret 1939, Jerman
menyerbu sisa Cekoslowakia dan membelahnya menjadi Protektorat
Bohemia dan Moravia Jerman dan negara klien pro-Jerman bernama Republik Slovak.[41]
Terkejut, ditambah Hitler menuntut Danzig,
Perancis dan Britania Raya menjamin dukungan mereka terhadap kemerdekaan Polandia;
ketika Italia menguasai
Albania pada bulan April 1939, jaminan yang sama diberikan
untuk Rumania dan Yunani.[42]Tidak lama setelah janji Perancis-Britania kepada Polandia, Jerman dan
Italia meresmikan aliansi mereka sendiri melalui Pakta
Baja.[43]
Bulan Agustus 1939, Jerman dan Uni Soviet
menandatangani Pakta
Molotov–Ribbentrop,[44] sebuah perjanjian non-agresi
dengan satu protokol rahasia. Setiap pihak memberikan haknya satu sama lain,
"andai terjadi penyusunan wilayah dan politik," terhadap
"cakupan pengaruh" (antara Polandia dan Lituania untuk Jerman, dan Polandia timur, Finlandia, Estonia, Latvia, dan Bessarabia untuk Uni Soviet). Pakta ini
juga memunculkan pertanyaan tentang keberlangsungan kemerdekaan Polandia.[45]
Alur
perang[sunting]
Pecah
di Eropa (1939)[sunting]
Parade umum Wehrmacht Jerman dan Pasukan Merah Soviet pada tanggal 23
September 1939 diBrest, Polandia
Timur setelah Invasi Polandia berakhir. Di tengah adalah Mayor
Jenderal Heinz Guderian dan
di kanan adalah Brigadir Semyon
Krivoshein.
Pada tanggal 1 September 1939, Jerman
dan Slowakia—negara klien pada tahun 1939—menyerang Polandia.[46] Tanggal 3 September,
Perancis dan Britania Raya, diikuti negara-negara Persemakmuran,[47] menyatakan perang terhadap Jerman,
tetapi memberi sedikit dukungan kepada
Polandia ketimbang serangan
kecil Perancis ke Saarland.[48] Britania dan Perancis juga
mulaimemblokir perairan Jerman pada tanggal
3 September untuk melemahkan ekonomi dan upaya perang negara ini.[49][50]
Tanggal 17 September, setelah
menandatangani gencatan senjata dengan Jepang, Soviet juga
menyerbu Polandia.[51] Wilayah Polandia terbagi
antara Jerman dan Uni Soviet, dengan Lituania dan Slowakia mendapat bagian kecil. Polandia
tidak menyerah; mereka mendirikan Negara Bawah Tanah Polandia dan Pasukan Dalam Negeri bawah tanah,
dan terus berperang bersama Sekutu di semua front di luar
Polandia.[52]
Sekitar 100.000 personil militer
Polandia diungsikan
ke Rumania dan negara-negara Baltik; sebagian besar tentara
tersebut kemudian berperang melawan Jerman di teater perang yang lain.[53] Pemecah
kode Enigma Polandia juga diungsikan ke Perancis.[54] Pada saat itu pula, Jepang
melancarkan serangan pertamanya ke Changsha, sebuah kota
Cina yang strategis, tetapi digagalkan pada akhir September.[55]
Setelah invasi Polandia dan perjanjian Jerman-Soviet atas Lituania, Uni
Soviet memaksa negara-negara Baltik mengizinkan
merekamenempatkan tentara Soviet di negara mereka atas
alasan "bantuan bersama".[56][57][58] Finlandia menolak permintaan
wilayah dan diserang oleh Uni Soviet pada bulan November 1939.[59] Konflik yang kemudian
pecah berakhir pada bulan Maret 1940 dengankonsesi oleh
Finlandia.[60] Perancis dan Britania Raya,
menyebut serangan Soviet ke Finlandia sebagai alasan memasuki kancah perang di
pihak Jerman, menanggapi invasi Soviet dengan mendukung dikeluarkannya Uni
Soviet dari Liga Bangsa-Bangsa.[58]
Tentara Jerman di Arc de Triomphe, Paris, setelah kejatuhan Perancis
tahun 1940.
Di Eropa Barat, tentara Britania dikerahkan
ke benua ini, namun pada fase yang dijuluki Perang Phoney oleh Britania dan
"Sitzkrieg" (perang duduk) oleh Jerman tak satupun pihak yang
melancarkan operasi besar-besaran terhadap satu sama lain sampai April 1940.[61] Uni Soviet dan Jerman membuat pakta dagang pada bulan Februari 1940, yang
berarti Soviet menerima bantuan militer dan industri dengan imbalan menyediakan
bahan mentah untuk Jerman agar bisa mengakali pemblokiran oleh Sekutu.[62]
Pada bulan April 1940, Jerman
menginvasi Denmark dan Norwegia untuk mengamankan
pengiriman bijih besi dari Swedia, yanghendak
dihadang oleh Sekutu.[63] Denmark langsung menyerah, dan meski dibantu Sekutu, Norwegia berhasil
dikuasai dalam waktu dua bulan.[64] Bulan Mei 1940, Britania
menyerbu Islandia untuk mencegah kemungkinan invasi Jerman ke
pulau itu.[65]Ketidakpuasan
Britania atas kampanye Norwegia mendorong penggantian Perdana Menteri Neville
Chamberlain dengan Winston Churchill pada tanggal
10 Mei 1940.[66]
Serbuan
Poros
Jerman menyerbu Perancis, Belgia, Belanda,
dan Luksemburg pada tanggal 10 Mei 1940.[67] Belanda dan Belgia kewalahan menghadapi taktik blitzkrieg dalam beberapa hari dan
minggu.[68] Jalur
Maginot yang dipertahankan Perancis dan pasukan Sekutu di
Belgia diakali dengan bergerak secara mengapit melintasi hutan lebat Ardennes,[69] yang disalahartikan oleh
perencana perang Perancis sebagai penghalang alami bagi kendaraan lapis baja.[70]
Tentara Britania terpaksa keluar dari Eropa melalui Dunkirk,
meninggalkan semua peralatan beratnya pada awal Juni.[71] Tanggal 10 Juni, Italia menyerbu
Perancis, menyatakan perang terhadap Perancis dan Britania Raya;[72] dua belas hari kemudian Perancis menyerah dan langsung dibelah
menjadi zona pendudukan Jerman dan Italia,[73] dan sebuahnegara
sisa yang tak diduduki di bawah Rezim
Vichy. Pada tanggal 3 Juli, Britania menyerang armada
Perancis di Aljazair untuk mencegah perebutan oleh
Jerman.[74]
Bulan Juni, pada hari-hari terakhir
Pertempuran Perancis, Uni Soviet memaksa aneksasi Estonia, Latvia, dan Lituania,[57] lalu menganeksasi
wilayah Bessarabia yang dipertentangkan Rumania.
Sementara itu, kesesuaian politik dan kerja sama ekonomi Nazi-Soviet[75][76] perlahan buntu,[77][78] dan kedua negara mulai bersiap
untuk perang.[79]
Dengan Perancis dinetralkan, Jerman memulai
kampanye superioritas udara atas
Britania (Pertempuran Britania)
untuk mempersiapkan sebuah
invasi.[80] Kampanye ini gagal, dan
rencana invasi tersebut dibatalkan pada bulan September.[80] Menggunakan pelabuhan-pelabuhan
Perancis yang baru dicaplok, Angkatan Laut Jerman menikmati
kesuksesanmelawan Angkatan Laut
Kerajaan dengan memakai kapal-U untuk
menyerang kapal-kapal Britania di Atlantik.[81] Italia memulai operasinya di
Mediterania, memulai pengepungan
Malta bulan Juni, menguasai Somaliland Britania bulan
Agustus, dan menerobos wilayah Mesir Britania bulan September 1940.
Jepang meningkatkan pemblokirannya terhadap Cina pada bulan September
dengan merebut sejumlah
pangkalan di wilayah utara Indocina Perancis yang saat ini terisolasi.[82]
Pertempuran Britania mengakhiri
serbuan Jerman di Eropa Barat.
Sepanjang periode ini, Amerika Serikat yang
netral melakukan sejumlah hal untuk membantu Cina dan Sekutu Baratnya. Pada
bulan November 1939, Undang-Undang Netralitas diamandemen
untuk memungkinkan pembelian "beli dan angkut" oleh Sekutu.[83]Tahun 1940, setelah pencaplokan
Paris oleh Jerman, ukuran Angkatan Laut
Amerika Serikat meningkat pesat dan, setelah serbuan
Jepang ke Indocina, Amerika Serikat memberlakukan embargo besi, baja, dan barang-barang
mekanik terhadap Jepang.[84] Pada bulan September, Amerika
Serikat menyetujui penukaran kapal penghancur AS dengan pangkalan Britania
Raya.[85] Tetap saja, mayoritas rakyat
Amerika Serikat menentang intervensi militer langsung apapun terhadap konflik
ini sampai tahun 1941.[86]
Pada akhir September 1940, Pakta
Tiga Pihak menyatukan Jepang, Italia, dan Jerman untuk
meresmikan Kekuatan Poros.
Pakta Tiga Pihak ini menegaskan bahwa negara apapun, kecuali Uni Soviet, yang
tidak terlibat dalam perang yang menyerang Kekuatan Poros apapun akan dipaksa
berperang melawan ketiganya.[87] Pada waktu itu, Amerika
Serikat terus mendukung Britania Raya dan Cina dengan memperkenalkan kebijakan Lend-Lease yang
mengizinkan pengiriman material dan barang-barang lain[88] dan membuat zona keamanan yang
membentang hingga separuh Samudra Atlantik agar Angkatan Laut
Amerika Serikat bisa melindungi konvoi Britania.[89] Akibatnya, Jerman dan Amerika
Serikat terlibat dalam peperangan laut di Atlantik Utara dan Tengah pada
Oktober 1941, bahkan meski Amerika Serikat secara resmi tetap netral.[90][91]
Blok Poros meluas bulan November 1940
ketika Hongaria, Slowakia, dan Rumania bergabung dengan Pakta Tiga Pihak
ini.[92]Rumania akan memberi kontribusi besar terhadap perang Poros
melawan Uni Soviet, sebagian untuk merebut kembali wilayah yang diserahkan kepada Soviet,
sebagian lagi demi memenuhi keinginan pemimpinnya, Ion Antonescu, untuk melawan komunisme.[93]Pada bulan Oktober 1940, Italia menyerbu Yunani,
tetapi beberapa hari kemudian digagalkan dan dipukul sampai Albania yang
berakhir dengan kebuntuan.[94] Bulan Desember 1940, pasukan
Persemakmuran Britania Raya memulai serangan balasan terhadap pasukan
Italia di Mesir dan Afrika
Timur Italia.[95] Pada awal 1941, dengan pasukan
Italia dipukul hingga Libya oleh Persemakmuran, Churchill memerintahkan pengerahan
tentara dari Afrika untuk membantu Yunani.[96] Angkatan
Laut Italia juga menderita kekalahan besar, dengan Angkatan
Laut Kerajaan membuat tiga kapal perang Italia tidak berfungsi melalui serangan
kapal induk di Taranto, dan menetralisasi beberapa kapal perang lain
pada Pertempuran Tanjung Matapan.[97]
Tentara penerjun Jerman menyerbu pulauKreta,
Yunani, Mei 1941.
Jerman segera turun tangan untuk membantu
Italia. Hitler mengirimkan
pasukan Jerman ke Libya pada bulan Februari, dan pada akhir
Maret mereka melancarkan serangan terhadap pasukan
Persemakmuran yang semakin sedikit.[98] Dalam kurun sebulan, pasukan
Persemakmuran dipukul mundur ke Mesir dengan pengecualian pelabuhan
Tobruk yang dikepung.[99] Persemakmuranberupaya
mengusir pasukan Poros pada bulan Mei dan lagi pada
bulan Juni, tetapi keduanya gagal.[100] Pada awal April, setelah
penandatanganan Pakta Tiga Pihak oleh Bulgaria, Jerman turun tangan di Balkan dengan menyerbu Yunani dan Yugoslavia
setelah terjadi kudeta; di sini mereka membuat kemajuan besar,
sehingga memaksa Sekutu pindah setelah Jerman menguasai pulau Kreta, Yunani pada akhir
Mei.[101]
Sekutu sempat beberapa kali berhasil pada
saat itu. Di Timur Tengah, pasukan Persemakmuran pertama menggagalkan
kudeta di Irak yang dibantu pesawat Jerman dari
pangkalan-pangkalan di Suriah Vichy,[102] kemudian dengan bantuan Perancis Merdeka,menyerbu Suriah dan Lebanon untuk
mencegah peristiwa seperti itu lagi.[103] Di Atlantik, Britania
berhasil menaikkan moral publik dengan menenggelamkan kapal perang Jerman Bismarck.[104] Mungkin yang terpenting
adalah pada Pertempuran Britania,Angkatan Udara
Kerajaan berhasil bertahan dari serangan Luftwaffe dan kampanye
pengeboman Jerman yang berakhir bulan Mei 1941.[105]
Di Asia, meski sejumlah serangan dari kedua
pihak, perang antara Cina dan Jepang buntu pada tahun 1940. Demi meningkatkan
tekanan terhadap Cina dengan memblokir rute-rute suplai, dan untuk memosisikan
pasukan Jepang dengan tepat andai pecah perang dengan negara-negara Barat,
Jepang merebut kendali
militer di Indocina selatan[106] Pada Agustus 1940, kaum komunis Cina melancarkan serangan di Cina Tengah; sebagai balasan,
Jepang menerapkan kebijakan keras (Kebijakan
Serba Tiga) di daerah-daerah pendudukan untuk mengurangi sumber daya
manusia dan bahan mentah untuk pasukan komunis.[107] Antipati yang terus berlanjut
antara pasukan komunis dan nasionalis Cinamemuncak pada pertempuran bersenjata pada
bulan Januari 1941, secara efektif mengakhiri kerja sama mereka.[108]
Dengan stabilnya situasi di Eropa dan Asia,
Jerman, Jepang, dan Uni Soviet mempersiapkan diri. Dengan kekhawatiran Soviet
terhadap meningkatnya ketegangan dengan Jerman dan rencana Jepang untuk
memanfaatkan Perang Eropa dengan merebut jajahan Eropa yang kaya sumber daya
alam di Asia Tenggara, kedua kekuatan ini menandatangani Pakta Netralitas Soviet–Jepang pada bulan
April 1941.[109] Kebalikannya, Jerman
bersiap-siap menyerang Uni Soviet dengan menempatkan pasukan dalam jumlah besar
di perbatasan Soviet.[110]
Perang
global (1941)[sunting]
Infanteri dan kendaraan
lapis baja Jermanmelawan pasukan Soviet di jalanan Kharkov,
Oktober 1941.
Pada tanggal 22 Juni 1941, Jerman,
bersama anggota Poros Eropa lainnya dan Finlandia, menyerbu Uni Soviet
dalam Operasi Barbarossa.
Target utama serangan kejutan ini[111] adalah kawasan
Baltik, Moskwa dan Ukraina dengan tujuan utama mengakhiri kampanye 1941
dekat jalur
Arkhangelsk-Astrakhan yang menghubungkan Laut Kaspia dan Laut Putih. Tujuan Hitler adalah menghancurkan
Uni Soviet sebagai sebuah kekuatan militer, menghapus komunisme,
menciptakan Lebensraum ("ruang
hidup")[112] dengan memiskinkan
penduduk asli[113] dan menjamin akses ke sumber
daya strategis yang diperlukan untuk mengalahkan musuh-musuh Jerman yang
tersisa.[114]
Meski Angkatan
Darat Merah mempersiapkan serangan
balasan strategis sebelum perang,[115] Barbarossa memaksa komando
tertinggi Soviet mengadopsi pertahanan
strategis. Sepanjang musim panas, Poros berhasil menerobos jauh ke
dalam wilayah Soviet, mengakibatkan kerugian besar dalam hal personil dan
material. Pada pertengahan Agustus, Komando Tinggi
Angkatan Darat Jerman memutuskan menunda serangan oleh Army
Group Centre yang kecil dan mengalihkan Satuan
Panzer ke-2 untuk membantu tentara yang maju melintasi Ukraina
tengah dan Leningrad.[116] Serangan Kiev sukses besar dan berakhir
dengan pengepungan dan penghancuran empat unit pasukan Soviet, serta
memungkinkan pergerakan
lebih lanjut di Krimea dan Ukraina Timur yang industrinya maju
(Pertempuran Kharkov Pertama).[117]
Serangan balasan Soviet
pada pertempuran Moskwa,
Desember 1941.
Pengalihan tiga per empat pasukan Poros dan
sebagian besar angkatan udaranya dari Perancis dan Mediterania tengah ke Front Timur[118] membuat Britania
mempertimbangkan kembali strategi
besarnya.[119] Pada bulan Juli, Britania
Raya dan Uni Soviet membentuk aliansi militer melawan Jerman[120] Britania dan Soviet menyerbu Iran untuk
melindungi Koridor
Persia dan ladang minyak Iran.[121] Bulan Agustus, Britania Raya
dan Amerika Serikat bersama-sama meresmikan Piagam Atlantik.[122]
Pada bulan Oktober, ketika tujuan operasional
Poros di Ukraina dan Baltik tercapai, dengan pengepungan Leningrad[123] danSevastopol yang masih berlanjut,[124] sebuah serangan besar ke Moskwa dilancarkan
kembali. Setelah dua bulan bertempur sengit, pasukan Jerman hampir mencapai
pinggiran terluar Moskwa, tempat tentara-tentaranya yang lelah[125] terpaksa menunda serangan
mereka.[126] Pencaplokan teritorial besar
dilakukan oleh pasukan Poros, tetapi kampanye mereka gagal mencapai tujuan
utamanya: dua kota utama masih dikuasai Soviet, kemampuan
memberontak Soviet gagal dipadamkan, dan Uni Soviet
mempertahankan banyak sekali potensi militernya. Fase blitzkrieg perang
di Eropa telah berakhir.[127]
Animasi Teater Eropa PDII.
Pada awal Desember, pasukan cadangan yang baru dimobilisasi[128] memungkinkan Soviet
menyamakan jumlah tentaranya dengan Poros.[129] Hal ini, bersama data
intelijen yang menetapkan jumlah minimum tentara Soviet di
Timur yang cukup untuk mencegah serangan apapun oleh Angkatan Darat Kwantung Jepang,[130] memungkinkan Soviet
memulai serangan balasan massalyang dimulai tanggal 5
Desember di front sepanjang 1.000 kilometer (620 mil) dan mendesak
tentara Jerman mundur 100–250 kilometers (62–160 mil) ke barat.[131]
Keberhasilan Jerman di Eropa menggugah Jerman
untuk meningkatkan tekanannya terhadap pemerintah-pemerintah Eropa di Asia
Tenggara. Pemerintah Belanda setuju menyediakan minyak untuk Jepang dari Hindia Timur Belanda,
namun menolak menyerahkan kendali politik atas koloninya. Perancis
Vichy, sebaliknya, menyetujui pendudukan Jepang di Indocina Perancis.[132] Pada bulan Juli 1941, Amerika
Serikat, Britania Raya, dan pemerintah Barat lainnya bereaksi terhadap
pendudukan Indocina dengan membekukan aset-aset Jepang, sementara Amerika
Serikat (yang menyediakan 80 persen minyak Jepang[133]) merespon dengan menerapkan
embargo minyak secara penuh.[134] Ini berarti Jepang terpaksa
memilih antara mengabaikan ambisinya di Asia dan perang melawan Cina, atau
merebut sumber daya alam yang diperlukan melalui kekuatan; militer Jepang tidak
menganggap yang pertama sebagai pilihan, dan banyak pejabat menganggap embargo
minyak sebagai pernyataan perang tidak langsung.[135]
Jepang berencana merebut koloni-koloni Eropa
di Asia dengan cepat untuk menciptakan perimeter defensif besar yang membentang
hingga Pasifik Tengah; Jepang kemudian bebas mengeksploitasi sumber daya di
Asia Tenggara sambil menyibukkan Sekutu dengan melancarkan perang defensif.[136] Untuk mencegah intervensi
Amerika Serikat sambil mengamankan perimeter, Jepang berencana
menetralisasi Armada Pasifik Amerika Serikat dari
kancah perang.[137] Pada tanggal 7 Desember (8
Desember di Asia) 1941, Jepang menyerang aset-aset Britania dan Amerika Serikat
dengan serangan di Asia Tenggara dan Pasifik Tengah secara
nyaris bersamaan.[138] Peristiwa ini meliputi serangan ke armada
Amerika Serikat di Pearl Harbor, pendaratan di Thailand
dan Malaya[138] dan pertempuran Hong Kong.
Kejatuhan Singapura pada
Februari 1942 mengakibatkan 80.000 tentara Sekutu ditangkap dan diperbudak oleh
Jepang.
Serangan-serangan ini mendorong Amerika
Serikat, Britania Raya, Cina, Australia, dan beberapa
negara lain secara resmi menyatakan perang terhadap Jepang, sementara Uni
Soviet, karena sedang terlibat dalam perang besar-besaran dengan blok Poros
Eropa, memilih untuk tetap netral dengan Jepang.[139][140] Jerman dan negara-negara
Poros menanggapi dengan menyatakan perang terhadap Amerika Serikat. Pada bulan
Januari, Amerika Serikat, Britania Raya, Uni Soviet, Cina, dan 22 pemerintahan
kecil atau terasingkan mengeluarkan Deklarasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa,
sehingga memperkuat Piagam Atlantik,[141] dan melakukan kewajiban untuk
tidak menandatangani perjanjian damai terpisah dengan negara-negara Poros.
Sejak 1941, Stalin terus meminta Churchill, dan kemudian Roosevelt, untuk
membuka 'front kedua' di Perancis.[142] Front Timur menjadi teater
perang besar di Eropa dan jumlah korban Soviet yang berjumlah jutaan menciutkan
jumlah korban Sekutu Barat yang hanya ratusan ribu orang; Churchill dan
Roosevelt mengatakan mereka butuh lebih banyak waktu untuk persiapan, sehingga
memunculkan klaim bahwa mereka sengaja buntu untuk menyelamatkan orang-orang
Barat dengan mengorbankan orang-orang Soviet.[143]
Sementara itu, pada akhir April 1942, Jepang
dan sekutunya Thailand hampir menguasai seluruh Burma, Malaya, Hindia Timur
Belanda, Singapura,[144] dan Rabaul, sehingga menambah kerugian bagi tentara Sekutu dan
banyak di antara mereka yang ditawan. Meski memberontak habis-habisan di Corregidor, Filipina akhirnya
ditaklukkan pada bulan Mei 1942 dan memaksa pemerintah Persemakmuran
Filipina mengasingkan diri.[145] Pasukan Jepang juga
memenangkan pertempuran laut di Laut Cina Selatan, Laut Jawa,
dan Samudra Hindia,[146] dan mengebom pangkalan laut Sekutu di Darwin,
Australia. Satu-satunya kesuksesan sejati Sekutu melawan Jepang adalahkemenangan Cina
di Changsha pada awal Januari 1942.[147] Kemenangan-kemenangan mudah
atas lawan yang tidak punya persiapan ini membuat Jepang terlalu percaya diri
dan berlebihan.[148]
Jerman juga mewujudkan inisiatifnya. Dengan
mengeksploitasi keputusan komando laut Amerika Serikat yang ragu-ragu, Angkatan Laut Jerman mengacaukan
jalur kapal Sekutudi lepas pesisir Atlantik Amerika Serikat.[149] Meski kalah besar, anggota
Poros Eropa menghentikan serbuan Soviet di Rusia Tengah dan Selatan, sehingga
melindungi sebagian besar jajahan yang mereka peroleh pada tahun sebelumnya.[150] Di Afrika Utara, Jerman
melancarkan sebuah serangan pada bulan Januari yang memukul Britania kembali ke
posisinya di Garis
Gazala pada awal Februari,[151] diikuti oleh meredanya
pertempuran untuk sementara yang dimanfaatkan Jerman untuk mempersiapkan
serangan mereka selanjutnya.[152]
Kebuntuan
serbuan Poros (1942)[sunting]
Pengebom
tukik Amerika Serikat memerangiMikuma pada Pertempuran Midway,
Juni 1942.
Pada awal Mei 1942, Jepang memulai operasi
untuk menduduki
Port Moresby dengan serangan
amfibi dan memutuskan komunikasi dan jalur suplai antara
Amerika Serikat dan Australia. Akan tetapi, Sekutu berhasil mencegah invasi ini
dengan mencegat dan mengalahkan pasukan laut Jepang pada Pertempuran Laut
Koral.[153] Rencana Jepang selanjutnya,
termotivasi olehSerangan
Doolittle sebelumnya, adalah merebut Atol Midway dan memancing kapal induk
Amerika Serikat ke kancah perang untuk dihancurkan; sebagai aksi pengalihan,
Jepang juga mengirimkan pasukan untuk menduduki
Kepulauan Aleut di Alaska.[154] Pada awal Juni, Jepang melaksanakan
operasinya, tetapi Amerika Serikat, setelah berhasil memecahkan kode
laut Jepang pada akhir Mei, mengetahui semua rencana dan
pemindahan pasukan mereka dan memakai pengetahuan ini untuk memperoleh kemenangan
telak di Midway atas Angkatan
Laut Kekaisaran Jepang.[155]
Dengan kapasitasnya untuk bertindak secara
agresif hilang akibat Pertempuran Midway, Jepang memilih fokus pada upaya
menduduki Port Moresby melalui kampanye
darat di Teritori Papua.[156] AMerika Serikat merencanakan
serangan balasan terhadap posisi Jepang di selatan Kepulauan Solomon, terutama Guadalcanal, sebagai tahap pertama
menduduki Rabaul, pangkalan utama Jepang di Asia
Tenggara.[157]
Kedua rencana ini dimulai bulan Juli, namun
pada pertengahan September, Pertempuran
Guadalcanal dimenangkan Jepang, dan tentara-tentara di Nugini
diperintahkan mundur dari Port Moresby ke bagian utara pulau, tempat mereka menghadapi
tentara Australia dan Amerika Serikat dalam Pertempuran
Buna-Gona.[158] Guadalcanal segera menjadi
titik fokus bagi kedua pihak dengan komitmen besar tentara dan kapal dalam
pertempuran Guadalcanal. Pada awal 1943, Jepang dikalahkan di pulau ini
dan menarik tentara mereka.[159] Di Burma, pasukan
Persemakmuran melancarkan dua operasi. Pertama, ofensif ke wilayah Arakan pada akhir 1942 gagal dan
memaksa pasukan mundur ke India bulan Mei 1943.[160] Kedua, penyisipan
pasukan ireguler ke belakang garis depan Jepang bulan Februari
yang, pada akhir April, memperoleh hasil yang diragukan.[161]
Tentara Soviet menyerang
sebuah rumah padaPertempuran
Stalingrad, 1943.
Di front timur Jerman,
pasukan Poros mematahkan serangan Soviet di Semenanjung Kerch dan Kharkov,[162] dan kemudian
melancarkan serangan
musim panas utamanya terhadap Rusia Selatan pada bulan Juni
1942 untuk menguasai ladang minyak di Kaukasus dan menduduki stepa Kuban,
sementara mempertahankan posisi di wilayah front sebelah utara dan tengah.
Jerman membagi Grup Angkatan Darat Selatan menjadi dua
grup: Grup
Angkatan Darat A bergerak ke Sungai
Don, sementara Grup
Angkatan Darat B bergerak ke sebelah tenggara Kaukasus
menuju Sungai Volga.[163] Soviet memutuskan bertahan di
Stalingrad yang berada di jalur pergerakan pasukan Jerman.
Pada pertengahan November, Jerman hampir berhasil
menduduki Stalingrad dalam pertempuran
jalanan saat Soviet memulai serangan balasan musim dingin
keduanya, dimulai dengan mengepung pasukan Jerman di Stalingrad[164] dan serangan keunggulan
Rzhev dekat Moskwa, meski upaya terakhir gagal besar.[165] Pada awal Februari 1943,
Angkatan Darat Jerman menderita kekalahan besar; tentara Jerman di Stalingrad
dipaksa menyerah[166] dan garis depan dimundurkan
hingga posisinya sebelum serangan musim panas. Pada pertengahan Februari,
setelah desakan Soviet meruncing, Jerman melancarkan serangan lain ke
Kharkov dan membentuk unggulan baru di garis depan mereka di
sekitar kota Kursk, Rusia.[167]
Tank
Crusader Britania bergerak ke posisi depan pada Kampanye
Afrika Utara.
Pada bulan November 1941, pasukan
Persemakmudan mengadakan serangan balasan, Operasi
Crusader, di Afrika Utara dan mengklaim kembali semua wilayah yang
direbut Jerman dan Italia.[168] Di Barat, kekhawatiran bahwa
Jepang mungkin memakai pangkalan di Madagaskar Vichy mendorong Britania menyerbu pulau ini pada
awal Mei 1942.[169] Kesuksesan ini tidak bertahan
lama setelah Poros berhasil memukul Sekutu kembali ke Mesir dalam serangan
di Libya sampai pasukan Poros dihentikan di El Alamein.[170] Di Eropa, serangan komando Sekutu
terhadap target-target strategis, berakhir dengan Serangan
Dieppe yang menghancurkan,[171] menunjukkan ketidakmampuan
Sekutu Barat untuk melancarkan invasi ke daratan Eropa tanpa persiapan,
perlengkapan, dan keamanan operasional yang lebih baik.[172]
Pada bulan Agustus 1942, Sekutu sukses
mematahkan serangan kedua terhadap El Alamein[173] dan, dengan banyak korban,
berupaya mengirimkan
suplai ke Malta yang sedang dikepung.[174] Beberapa bulan kemudian,
Sekutu melancarkan serangan di Mesir, memecah
pasukan Poros dan mendorong mereka ke barat melintasi Libya.[175] Serangan ini tidak lama
kemudian dilanjutkan dengan invasi Inggris-Amerika Serikat ke Afrika Utara Perancis,
yang berakhir dengan bergabungnya wilayah ini dengan Sekutu.[176] Hitler menanggapi pendudukan
koloni Perancis ini dengan memerintahkan pendudukan
Perancis Vichy;[176] meski pasukan Vichy sendiri
tidak melawan pelanggaran gencatan senjata ini, mereka berusaha menenggelamkan armadanya sendiriagar tidak
direbut pasukan Jerman.[177] Pasukan Poros yang sekarang
kewalahan di Afrika mundur hingga Tunisia, yang kemudiandikuasai
Sekutu pada bulan 1943.[178]
Sekutu
menguasai medan (1943)[sunting]

Video lama
memperlihatkan pengeboman Hamburg oleh Sekutu.
Pesawat Il-2 Soviet
menyerang kolomWehrmacht pada Pertempuran Kursk, 1 Juli 1943.
Setelah Kampanye Guadalcanal, Sekutu memulai
sejumlah operasi melawan Jepang di Pasifik. Pada bulan Mei 1943, pasukan Sekutu
dikirim untuk mengusir pasukan
Jepang dari Kepulauan Aleut,[179] dan segera memulai operasi
besar untul mengisolasi
Rabaul dengan menduduki pulau-pulau sekitarnya, dan menembus perimeter Pasifik Tengah Jepang di Kepulauan
Gilbert dan Marshall.[180] Pada akhir Maret 1944, Sekutu
menyelesaikan kedua misi ini, dan selain itu menetralisasi
pangkalan Jepang di Trukdi Kepulauan
Caroline. Bulan April, Sekutu melancarkan operasi mencaplok
kembali Nugini Barat.[181]
Di Uni Soviet, baik Jerman dan Soviet
menghabiskan musim semi dan awal musim panas 1943 dengan bersiap-siap untuk
serangan besar di Rusia Tengah. Tanggal 4 Juli 1943, Jerman menyerang pasukan Soviet di sekitar Kursk Bulge.
Dalam satu minggu, pasukan Jerman lelah menghadapi pertahanan Soviet yang
sangat teratur[182][183] dan, untuk pertama kalinya
dalam perang ini, Hitler membatalkan sebuah operasi sebelum memperoleh
kesuksesan taktis atau operasional.[184] Keputusan ini sebagian
dipengaruhi oleh invasi Sisilia oleh
Sekutu Barat pada 9 Juli yang, bersama kegagalan-kegagalan Italia sebelumnya,
berujung pada penggulingan dan penahanan Mussolini pada akhir bulan itu.[185]
Tanggal 12 Juli 1943, Soviet
melancarkan serangan
balasannya sendiri, sehingga memupuskan harapan apapun bagi
Angkatan Darat Jerman untuk memenangkan pertempuran atau buntu di timur.
Kemenangan Soviet di Kursk menandai kejatuhan superioritas Jerman[186] dan memberi Uni Soviet
inisiatif di Front Timur.[187][188] Jerman berusaha menstabilkan
front timur mereka di sepanjanggaris
Panther-Wotan yang sangat dipertahankan, namun Soviet berhasil
mendobraknya di Smolensk dan Serangan Dnieper Hilir.[189]
Pada awal September 1943, Sekutu Barat menyerbu daratan
Italia, diikuti gencatan senjata Italia dengan Sekutu.[190] Jerman menanggapinya dengan
melumpuhkan pasukan Italia, mengambil alih kendali militer di wilayah Italia,[191] dan membuat serangkaian garis
pertahanan.[192] Pasukan khusus Jerman
kemudian menyelamatkan
Mussolini, yang kemudian mendirikan negara klien baru di Italia
dudukan Jerman bernama Republik Sosial
Italia.[193] Sekutu Barat berperang melintasi
beberapa garis hingga garis
pertahanan utama Jerman pada pertengahan November.[194]
Operasi Jerman di Atlantik juga terganggu.
Pada Mei
1943, dengan efektifnya serangan balasan Sekutu, kerugian kapal
selam Jerman yang besar memaksa kampanye laut Atlantik Jerman ditunda.[195] Pada bulan November
1943, Franklin D. Roosevelt dan
Winston Churchill bertemu dengan Chiang Kai-shek di Kairo[196] dan Joseph Stalin di Teheran.[197] Konferensi pertama menentukan
pengembalian teritori Jepang pascaperang,[196] sementara yang terakhir
menghasilkan perjanjian bahwa Sekutu Barat akan menyerbu Eropa pada tahun 1944
dan Uni Soviet akan menyatakan perang terhadap Jepang dalam tiga bulan setelah
kekalahan Jerman.[197]
Tentara Britania
menembakkan mortir padaPertempuran
Imphal, India Timur Laut, 1944.
Sejak November 1943, selama tujuh minggu
di Pertempuran
Changde, Cina memaksa Jepang memasuki perang atrisi yang merugikan
sambil menunggu bantuan Sekutu.[198][199] Bulan Januari 1944, Sekutu
melancarkan serangkaian serangan di Italia terhadap garis di Monte
Cassino dan berupaya menembusnya dengan mendarat
di Anzio.[200] Pada akhir Januari, serangan
besarSoviet mengusir pasukan
Jerman dari wilayah Leningrad,[201] dan mengakhiri pengepungan paling mematikan dan terlama
sepanjang sejarah.
Serangan Soviet selanjutnya terhalang di
perbatasan Estonia sebelum perang oleh Grup Angkatan Darat Utara Jerman yang
dibantu penduduk Estonia yang berharap menetapkan kembali kemerdekaan nasional mereka.
Penundaan ini memperlambat operasi Soviet selanjutnya di kawasan Laut Baltik.[202] Pada akhir Mei 1944, Soviet
berhasil membebaskan
Krimea, mengusir pasukan Poros besar-besaran dari Ukraina, dan
melakukan terobosan
ke teritori Rumania, yang dipukul balik oleh pasukan Poros.[203] Serangan Sekutu di Italia
berhasil dan, dengan mengizinkan sejumlah divisi Jerman mundur, pada tanggal
4 Juni Roma ditaklukkan.[204]
Sekutu mengalami berbagai keberhasilan di
daratan Asia. Bulan Maret 1944,Jepang melancarkan invasi pertama dari dua
rencananya, operasi
melawan posisi Britania di Assam, India,[205] dan kemudian mengepung posisi
Persemakmuran di Imphal danKohima.[206] Bulan Mei 1944, pasukan
Britania melakukan serangan balasan yang mendorong tentara Jepang kembali ke
Burma,[206] dan pasukan Cina yang
menyerbu Burma utara pada akhir 1943 mengepung tentara Jepang di Myitkyina.[207] Invasi Jepang kedua berupaya
menghancurkan pasukan tempur utama Cina, melindungi jalur kereta api di antara
teritori dudukan Jepang dan menduduki lapangan udara Sekutu.[208] Bulan Juni, Jepang telah menguasai
provinsi Henan dan memulai serangan baru terhadap Changsha di
provinsi Hunan.[209]
Sekutu
mendekat (1944)[sunting]
Invasi Normandia oleh Sekutu, 6 Juni 1944
Personil dan perlengkapan
Pasukan Merah melintasi sungai saat musim panas utara 1944
Pada tanggal 6 Juni 1944 (dikenal
sebagai D-Day),
setelah tiga tahun ditekan Soviet,[143] Sekutu Barat menyerbu Perancis Utara. Setelah menyusun
kembali beberapa divisi Sekutu dari Italia, mereka juga menyerang Perancis Selatan.[210] Semua pendaratan ini berhasil
dan berakhir dengan kekalahan unit
Angkatan Darat Jerman di Perancis. Paris dibebaskan oleh pemberontakan lokal yang dibantu Pasukan Perancis Merdeka pada tanggal 25
Agustus[211] dan Sekutu Barat terus memukul pasukan Jerman di Eropa Timur
sepanjang paruh terakhir tahun ini. Sebuah upaya bergerak maju melintasi Jerman
Utara yang diawali dengan operasi udara
besar-besaran di Belanda tidak berhasil.[212] Setelah itu, Sekutu Barat
pelan-pelan masuk wilayah Jerman, namun gagal menyeberangi
Sungai Rur dalam serangan besar. Di Italia, serbuan Sekutu juga
terhambat saat mereka melintasi garis
pertahanan besar Jerman terakhir.
Pada tanggal 22 Juni, Soviet mengadakan
serangan strategis di Belarus ("Operasi Bagration") yang berakhir dengan
nyaris kehancuran total Pusat Grup Angkatan Darat Jerman.[213] Tidak lama selepas itu, serangan strategis Soviet lainnya mengusir
tentara Jerman dari Ukraina Barat dan Polandia Timur. Pergerakan Soviet sukses
memaksa pasukan
pemberontak di Polandiamemulai
sejumlah pemberontakan, meski yang terbesar di Warsawa,
serta Pemberontakan Slowakia di selatan, tidak
dibantu Soviet dan dipadamkan oleh pasukan Jerman.[214] Serangan strategis Pasukan Merah di Rumania timur memecah
belah dan menghancurkan pasukan Jerman di sana sekaligus
berhasil menggulingkan
pemerintahan di Rumania dan Bulgaria,
diikuti dengan memihaknya negara-negara tersebut ke Sekutu.[215]
Milisi Polandia pada Pemberontakan Warsawayang
menewaskan 200.000 warga sipil.
Pada bulan September 1944, tentara Angkatan
Darat Merah Soviet melaju hingga Yugoslavia dan
memaksa penarikan cepat Grup Angkatan Darat Jerman E dan F di Yunani, Albania, dan Yugoslavia untuk
menyelamatkan mereka dari kehancuran.[216] Pada saat ini, Partisan Komunis
pimpinan Marsekal Josip Broz Tito,
yang memulai kampanye
gerilya sukses melawan pendudukan sejak 1941, menguasai
sebagian besar teritori Yugoslavia dan terlibat dalam menunda serangan terhadap
pasukan Jerman di selatan. DiSerbia utara, Pasukan Merah, dengan bantuan terbatas
dari pasukan
Bulgaria, membantu Partisan dalam pembebasan
bersama ibu kota Belgrade tanggal 20 Oktober. Beberapa hari
kemudian, Soviet melancarkan serangan
massal terhadap Hongaria
dudukan Jerman yang berlangsung sampai jatuhnya
Budapest pada bulan Februari 1945.[217] Kebalikan dengan kemenangan
impresif Soviet di Balkan, pemberontakan
Finlandia terhadap serangan Soviet di Tanah
Genting Karelia menggagalkan pendudukan Soviet di Finlandia dan
berakhir dengan penandatanganan gencatan senjata Soviet-Finlandia pada
kondisi relatif kondusif,[218][219] disertaimemihaknya Finlandia ke Sekutu.
Pada awal Juli, pasukan Persemakmuran di Asia
Tenggara menggagalkan pengepungan Jepang di Assam, memukul pasukannya kembali
hingga Sungai
Chindwin[220] sementara Cina mencaplok
Myitkyina. Di Cina, Jepang menuai kesuksesan besar, berhasil mencaplok Changsha
pada pertengahan Juni dan kota Hengyang pada
awal Agustus.[221] Selepas itu, mereka menyerbu
provinsi Guangxi, memenangkan pertempuran besar melawan pasukan Cina di Guilin dan Liuzhou pada akhir November[222] dan berhasil menyatukan
pasukan mereka di Cina dan Indocina pada pertengahan Desember.[223]
Di Pasifik, pasukan Amerika Serikat terus
menekan mundur perimeter Jepang. Pada pertengahan Juni 1944, mereka memulaiserangan ke Kepulauan Mariana dan Palau, dan
dengan telak mengalahkan pasukan Jepang pada Pertempuran Laut
Filipina. Kekalahan-kekalahan ini memaksa Perdana Menteri
Jepang Tōjō mengundurkan
diri dan memberi Amerika Serikat keunggulan atas pangkalan udara baru untuk
melancarkan serangan bom besar-besaran di kepulauan utama Jepang. Pada akhir
Oktober, pasukan Amerika Serikat menyerbu pulau Leyte, Filipina; tidak lama
kemudian, angkatan laut Sekutu mencetak kemenangan besar padaPertempuran Teluk Leyte, salah satu
pertempuran laut terbesar sepanjang sejarah.[224]
Poros
runtuh, Sekutu menang (1945)[sunting]
Tanggal 16 Desember 1944, Jerman mengupayakan
kesuksesan terakhirnya di Front Barat dengan mengerahkan sisa-sisa pasukan
cadangannya untuk melancarkan serangan
balasan massal di Ardennes untuk memecah belah Sekutu Barat,
mengepung sebagian besar tentara Sekutu Barat dan menaklukkan pelabuhan suplai
utama mereka di Antwerpdemi mencapai
penyelesaian politik.[225] Pada Januari, serangan ini
digagalkan tanpa satu tujuan strategis pun yang tercapai.[225] Di italia, Sekutu Barat tetap
buntu di garis pertahanan Jerman. Pada pertengahan Januari 1945, Soviet
menyerbu Polandia, bergerak
dari Sungai Vistula ke Sungai Oder di Jerman, dan menduduki
Prusia Timur.[226] Tanggal 4 Februari, para
pemimpin A.S., Britania Raya, dan Soviet bertemu di Konferensi Yalta. Mereka menyetujui pendudukan
di Jerman pascaperang,[227] dan Uni Soviet bergabung
dalam perang melawan Jepang.[228]
Pada bulan Februari, Soviet menginvasi
Silesia dan Pomerania, sementara Sekutu Barat memasuki Jerman Barat dan
mendekati Sungai Rhine. Bulan Maret, Sekutu Barat melintasi
Rhine di utara dan selatan Ruhr, mengepung
Grup Agkatan Darat Jerman B,[229] sementara Soviet melaju
ke Wina. Pada awal April, Sekutu Barat
akhirnya berhasil membuat kemajuan di Italia dan
bergerak melintasi Jerman Barat, sementara pasukan Soviet menyerbu Berlin pada
akhir April; kedua
pasukan bertemu di sungai Elbe tanggal 25 April. Tanggal 30
April 1945, Reichstag diduduki
dan menandakan kekalahan militer Reich Ketiga.[230]
Sejumlah perubahan kepemimpinan terjadi pada
masa ini. Tanggal 12 April, Presiden A.S. Roosevelt meninggal dunia dan
digantikan oleh Harry Truman.
Benito Mussolini dibunuh oleh partisan Italia tanggal 28 April.[231] Dua hari kemudian, Hitler
bunuh diri dan digantikan oleh Laksamana
Agung Karl Dönitz.[232]
Pasukan Jerman menyerah di Italia pada
tanggal 29 April. Instrumen penyerahan diri Jerman ditandatangani tanggal 7 Mei di Reims,[233] dan diratifikasi tanggal 8 Mei di Berlin.[234]Pusat Grup Angkatan Darat
Jerman bertahan
di Praha sampai 11 Mei.[235]
Di teater Pasifik, pasukan Amerika Serikat
dibantu Persemakmuran
Filipina bergerak maju di Filipina, membebaskan Leyte pada akhir April 1945.
Mereka mendarat
di Luzon bulan Januari 1945 dan mencaplok Manila bulan Maret setelah
pertempuran yang menghancurkan kota ini. Pertempuran berlanjut di Luzon, Mindanao dan
pulau-pulau lain di Filipina sampai berakhirnya perang.[236]
Bulan Mei 1945, tentara Australia mendarat di Kalimantan dan menduduki
ladang minyak di sana. Pasukan Britania, Amerika Serikat, dan Cina mengalahkan
Jepang di Burma utara pada bulan Maret, dan Britania mencapai Rangoon pada tanggal 3 Mei.[237] Pasukan Cina mulai balas
menyerang pada Pertempuran Hunan Barat yang pecah antara
6 April dan 7 Juni 1945. Pasukan Amerika Serikat juga bergerak ke Jepang,
mencaplok Iwo Jima pada
bulan Maret, dan Okinawa pada
akhir Juni.[238] Pesawat pengebom Amerika
Serikatmenghancurkan kota-kota Jepang dan kapal
selam Amerika Serikat memutuskan impor Jepang.[239]
Tanggal 11 Juli, para pemimpin Sekutu bertemu di Potsdam,
Jerman. Mereka menyetujui
perjanjian awal tentang Jerman,[240] dan menegaskan tuntutan
penyerahan diri semua pasukan Jepang oleh Jepang, dengan menyatakan bahwa
"alternatif bagi Jepang adalah kehancuran dalam waktu singkat".[241] Dalam konferensi ini, Britania Raya mengadakan pemilu dan Clement Attlee menggantikan Churchill
sebagai Perdana Menteri.[242]
Saat Jepang terus mengabaikan persyaratan
Potsdam, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki,
Jepang, pada awal Agustus. Di antara kedua pengeboman ini, Soviet, sesuai
perjanjian Yalta, menyerbu
Manchuria dudukan Jepang dan dengan cepat mengalahkan Angkatan Darat Kwantung yang saat itu
merupakan pasukan tempur Jepang terbesar.[243][244] Pasukan Merah juga menduduki
Pulau Sakhalin dan Kepulauan Kuril. Pada tanggal 15 Agustus
1945, Jepang menyerah dengan
penandatanganan dokumen penyerahan diri di atas geladak
kapal perang Amerika Serikat USS Missouri pada tanggal 2 September
1945, sehingga mengakhiri perang ini.[233]
Tentara Amerika Serikat
dan Sovietbertemu
bulan April 1945 di timur Sungai Elbe.
Jalanan pusat kota Berlin
yang hancur pasca-Pertempuran Berlin,
diambil tanggal 3 Juli 1945.
Ledakan atom di Nagasaki, 9 Agustus 1945.
Dampak[sunting]
Sekutu mendirikan pemerintahan pendudukan
di Austria dan Jerman. Negara pertama menjadi negara netral dan
tidak memihak dengan blok politik manapun. Negara terakhir dibelah menjadi zona
pendudukan barat dan timur yang dikuasai Sekutu Barat dan Uni Soviet.
Program denazifikasi di
Jerman melibatkan pengadilan penjahat
perang Nazi dan penggulingan mantan Nazi dari kekuasaan, meski
kebijakan ini lebih condong ke amnesti dan reintegrasi mantan Nazi ke
masyarakat Jerman Barat.[245]
Jerman kehilangan seperempat wilayahnya
sebelum perang (1937), wilayah timur: Silesia, Neumark dan
sebagian besar Pomerania diambil
alih Polandia; Prusia Timur dibagi
antara Polandia dan Uni Soviet, diikuti dengan pengusiran 9 juta warga Jerman dari
provinsi-provinsi tersebut, serta 3 juta warga Jerman dari Sudetenland di Cekoslowakia ke Jerman.
Pada 1950-an, satu dari lima orang Jerman Barat adalah pengungsi dari timur.
Uni Soviet juga menduduki provinsi milik Polandia di sebelah timur Garis Curzon (melibatkan pengusiran 2
juta warga Polandia),[246] Rumania Timur,[247][248] dan sebagian Finlandia timur,[249] serta tiga negara Baltik.[250][251]
Perdana Menteri Winston Churchill memberi tanda
"Victory" kepada kerumunan di London padaHari Kemenangan di
Eropa.
Demi mempertahankan perdamaian,[252] Sekutu mendirikan
Perserikatan Bangsa-Bangsa yang resmi berdiri tanggal 24 Oktober 1945,[253] dan mengadopsi Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia tahun
1948 sebagai standar umum bagi semua negara anggotanya.[254] Kekuatan-kekuatan besar yang
menjadi pemenang perang—Amerika Serikat, Uni Soviet, Cina, Britania Raya, dan
Perancis—menjadi anggota permanen Dewan Keamanan PBB.[3] Kelima anggota permanen ini
masih ada sampai sekarang, meski terjadi perubahan dua kursi, angata Republik Cina dan Republik Rakyat Cina tahun
1971, dan antara Uni Soviet dan negara penggantinya, Federasi Rusia,
setelah pembubaran
UNi Soviet. Aliansi antara Sekutu Barat dan Uni Soviet mulai
memburuk, bahkan sejak sebelum perang berakhir.[255]
Jerman dibagi secara de facto,
dan dua negara merdeka, Republik Federal Jerman dan Republik
Demokratik Jerman[256] dibentuk di dalam perbatasan
zona pendudukan Sekutu dan Soviet. Seluruh Eropa terbagi antara cakupan
pengaruh Barat dan Soviet.[257]Kebanyakan negara Eropa timur dan
tengah masuk dalam cakupan Soviet yang melibatkan pendirian rezim-rezim Komunis
dengan dukungan penuh atau setengah dari otoritas pendudukan Soviet.
Akibatnya, Polandia, Hongaria,[258] Cekoslowakia,[259] Rumania,Albania,[260] dan Jerman Timur menjadi negara satelit Soviet. Yugoslavia Komunis
melaksanakan kebijakan merdeka penuh yang menciptakan ketegangan dengan Uni
Soviet.[261]
Pembagian dunia pascaperang diresmikan oleh
dua aliansi militer internasional, NATO pimpinan
Amerika Serikat dan Pakta Warsawa pimpinan
Soviet;[262] periode panjang ketegangan
politik dan persaingan militer di antara mereka, Perang Dingin, akan dilengkapi oleh perlombaan
senjata dan perang proksi yang tidak terduga.[263]
Di Asia, Amerika Serikat memimpin pendudukan Jepang dan menguasai bekas pulau-pulau Jepang di Pasifik Barat,
sementara Soviet menganeksasi Sakhalin dan Kepulauan Kuril.[264] Korea,
sebelumnya di
bawah kekuasaan Jepang, dibagi dan diduduki oleh Amerika Serikat
di Selatan dan Uni Soviet di Utara antara 1945 dan 1948. Republik terpisah
muncul di kedua sisi garis paralel ke-38 pada tahun 1948, masing-masing
mengklaim sebagai pemerintahan sah untuk seluruh Korea dan berujung pada
pecahnya Perang Korea.[265]
Di Cina, pasukan nasionalis dan komunis melanjutkan perang
saudara pada bulan Juni 1946. Pasukan komunis menang dan
mendirikan Republik Rakyat Cina di daratan, sementara pasukan nasionalis mundur
ke Taiwan tahun 1949.[266] Di Timur Tengah, penolakan
Arab terhadap Rencana Pembagian Palestina Perserikatan Bangsa-Bangsa danpembentukan
Israel menandai eskalasi konflik Arab-Israel.
Saat kekuatan-kekuatan kolonial Eropa berupaya merebut kembali sebagian atau
semua imperium kolonialnya,
kehilangan prestise dan sumber daya saat perang justru menggagalkan upaya ini
dan mendorong dilakukannya dekolonisasi.[267][268]
Ekonomi global menderita akibat perang, meski
negara-negara yang terlibat terpengaruh dengan berbagai cara. Amerika Serikat
tampil lebih kaya daripada negara lain; negara ini mengalami ledakan bayi dan pada tahun 1950 produk
domestik bruto per orangnya lebih tinggi daripada negara-negara besar lain dan
Amerika Serikat mendominasi ekonomi dunia.[269][270] Britania Raya dan Amerika
Serikat menerapkan kebijakan pelucutan industri di Jerman Barat pada
tahun 1945–1948.[271] Akibat perdagangan
internasional yang saling tergantung, hal ini menciptakan stagnasi ekonomi di
Eropa dan menunda pemulihan Eropa selama beberapa tahun.[272][273]
Pemulihan dimulai dengan reformasi mata uang di Jerman Barat pada
pertengahan 1948 dan dipercepat oleh liberalisasi kebijakan ekonomi Eropa yang
dipengaruhi Rencana Marshall (1948–1951)
baik secara langsung maupun tidak langsung.[274][275] Pemulihan Jerman Barat
pasca-1948 disebut-sebut sebagai keajaiban ekonomi Jerman.[276] Selain itu, ekonomi Italia[277][278] dan Perancis juga meroket.[279] Kebalikannya, Britania Raya
berada dalam fase kekacauan ekonomi,[280] dan terus memburuk selama
beberapa dasawarsa.[281]
Uni Soviet, meski menderita kerugian manusia
dan material yang luar biasa, juga mengalami peningkatan pesat produksi pada
masa-masa pascaperang.[282] Jepang mengalamipertumbuhan
ekonomi pesat, menjadi salah satu ekonomi terkuat dunia pada tahun
1980-an.[283] Cina kembali ke produksi
industrinya sebelum perang pada tahun 1952.[284]
Peta kolonisasi dunia tahun
1945. Dengan berakhirnya perang, perang pembebasan bangsa tercipta,
berakhir dengan pembentukan
Israel dandekolonisasi
Asia dan Afrika.
Komandan Agung 5 Juni 1945
di Berlin:
Korban
dan kejahatan perang[sunting]
Korban jiwa Perang Dunia II
Perkiraan total korban perang bervariasi,
karena banyak kematian yang tidak tercatat. Kebanyakan pihak memperkirakan
sekitar 60 juta orang tewas dalam perang, termasuk 20 juta tentara dan 40 juta warga sipil.[285][286][287] Banyak warga sipil tewas
akibat wabah, kelaparan, pembantaian, pengeboman, dangenosida yang disengaja. Uni Soviet
kehilangan sekitar 27 juta rakyatnya sepanjang perant,[288] termasuk 8,7 juta personil
militer dan 19 juta warga sipil. Pangsa korban jiwa militer terbesar adalah
etnis Rusia (5.756.000),
diikuti etnisUkraina (1,377,400).[289] Satu dari empat warga sipil
Sovet dibunuh atau terluka dalam perang ini.[290] Jerman mengalami 5,3 juta
kematian militer, kebanyakan di Front Timur dan sepanjang pertempuran terakhir
di Jerman.[291]
Dari total korban tewas pada Perang Dunia II,
sekitar 85 persen—kebanyakan Soviet dan Cina—berada di pihak Sekutu dan 15
persen sisanya di pihak Poros. Sebagian besar kematian ini diakibatkan oleh
kejahatan perang yang dilakukan pasukan Jerman dan Jepang di wilayah pendudukan. Sekitar 11[292]sampai 17 juta[293] warga sipil tewas akibat
kebijakan ideologi Nazi secara langsung maupun tidak langsung, termasuk
genosida sistematis sekitar enam juta kaum Yahudi sepanjang Holocaust ditambah lima juta bangsa
Roma,homoseksual, serta Slav dan
suku bangsa atau kaum minoritas lainnya.[294]
Secara kasar 7,5 juta warga sipil tewas di
Cina selama pendudukan Jepang.[295] Ratusan ribu (perkiraan
bervariasi) etnis Serbia, bersama
gipsi dan Yahudi, dibunuh oleh Ustaše Kroasia yang berpihak pada Poros
di Yugoslavia,[296]dengan pembunuhan
balas dendam terhadap warga sipil Kroasia tepat setelah perang
berakhir.
Warga sipil Cina hendak
dikubur hidup-hidup oleh tentara Jepang.
Kekejaman Jepang yang paling terkenal
adalah Pembantaian Nanking,
yaitu ketika sekian ratus ribu warga sipil Cina diperkosa dan dibunuh.[297] Antara 3 juta hingga lebih
dari 10 juta warga sipil, kebanyakan etnis Cina, dibunuh oleh pasukan pendudukan
Jepang.[298] Mitsuyoshi Himeta melaporkan
2,7 juta korban jiwa selama dilaksanakannya Sankō
Sakusen. Jenderal Yasuji
Okamuramenerapkan kebijakan ini di Heipei dan Shantung
Pasukan Poros memakai senjata
biologis dan kimia dalam
jumlah terbatas. Italia memakai gas
mustar saat menaklukkan
Abisinia,[300] sementara Angkatan
Darat Kekaisaran Jepang memakai berbagai macam senjata
saat menyerbu dan menduduki Cina (lihatUnit 731)[301][302] dan pada konflik awal
melawan Soviet.[303] Baik Jerman dan Jepang menguji senjata-senjata tersebut
terhadap warga sipil[304] serta tahanan perang
Meski banyak aksi Poros diadili dalam pengadilan internasional
pertama di dunia,[306] insiden yang diakibatkan pihak Sekutu tidak
diadili. Misalnya, pemindahan penduduk di Uni Soviet dan penahanan warga Jepang Amerika di Amerika
Serikat; Operasi
Keelhaul,[307] pengusiran penduduk Jerman setelah Perang Dunia II, pemerkosaan pada pendudukan Jerman; pembantaian Katyn oleh Uni Soviet, yang
tanggung jawabnya dituduhkan kepada Jerman. Sejumlah besar kematian akibat
kelaparan juga disebabkan oleh perang, seperti kelaparan
Bengal 1943 dan kelaparan Vietnam 1944–45.[308]
Sejumlah sejarawan, seperti Jörg Friedrich, menegaskan bahwa pengeboman massal kawasan berpenduduk di
wilayah musuh, termasuk Tokyo dan terutama kota-kota Jerman
di Dresden, Hamburg, dan Koln oleh Sekutu Barat, yang mengakibatkan
kehancuran lebih dari 160 kota dan kematian 600.000 warga sipil Jerman, bisa
dianggap sebagai kejahatan perang.[309]
Kamp
konsentrasi dan perbudakan[sunting]
Jenazah di kamp konsentrasi Mauthausen-Gusen setelah
dibebaskan, kemungkinan tahanan politik atau tahanan perang Soviet
Nazi bertanggung jawab atas terjadinya
Holocaust, yaitu pembunuhan sekitar enam juta (meskipun jumlahnya diragukan)
kaum Yahudi (kebanyakan Ashkenazim), serta dua juta etnis Polandia dan empat juta orang lainnya
yang dianggap "tidak
layak hidup" (termasuk orang
cacat dan sakit
jiwa, tahanan perang Soviet, homoseksual, Freemason, Saksi-Saksi Yehuwa,
dan Romani)
sebagai bagian dari program pemusnahan dengan sengaja. Sekitar 12 juta orang,
kebanyakan penduduk
Eropa Timur, dipekerjakan sebagai buruh paksa di ekonomi perang Jerman.[310] Terlepas dari semua itu, ada
beberapa pihak yang meragukan jumlah korban Holocoust. Mereka beranggapan bahwa
korban Holocoust tidak sampai mencapai 6 juta orang, melainkan hanya ratusan
ribu saja. Peristiwa ini juga dianggap oleh pihak-pihak tertentu sebagai
propaganda untuk menarik simpati terhadap berdirinya negara Israel. Banyaknya negara-negara Eropa memberikan
hukuman bagi siapa saja yang tidak percaya pada peristiwa Holocoust dan
seringnya peristiwa ini ditunjukkan dalam film-film dan dalam buku-buku
sejarah, membuat pihak-pihak tersebut ragu akan kebenaran peristiwa ini. Namun,
terlepas dari semua keraguan itu, peristiwa pembantaian dan penyiksaan terhadap
Yahudi benar-benar ada, meskipun jumlah korbannya masih kontroversial.
Selain kamp konsentrasi Nazi, gulag (kamp
buruh) Soviet mengakibatkan kematian warga sipil negara-negara yang
diduduki seperti Polandia, Lituania, Latvia, dan Estonia, serta tahanan perang Jerman dan bahkan warga
sipil Soviet yang dianggap mendukung Nazi.[311] Enam puluh persen tahanan perang Jerman di Soviet tewas
sepanjang perang.[312] Richard
Overy memberi jumlah 5,7 juta tahanan perang Soviet. Dari
jumlah tersebut, 57 persen meninggal dunia atau dibunuh dengan jumlah
3,6 juta orang.[313]Mantan tahanan perang Soviet dan
warga sipil yang pulang diperlakukan dengan kecurigaan luar biasa sebagai
pendukung Nazi yang potensial, dan beberapa di antara mereka dikirim ke Gulag
setelah diperiksa NKVD.[314]
Kamp tahanan perang Jepang, kebanyakan dipakai
sebagai kamp buruh, juga memiliki tingkat kematian tinggi. Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh menemukan
tingkat kematian tahanan Barat adalah 27,1 persen (37 persen untuk tahanan
perang Amerika Serikat),[315] tujuh kali lebih tinggi
daripada tahanan perang di Jerman dan Italia.[316] Sementara 37.583 tahanan dari
Britania Raya, 28.500 dari Belanda, dan 14.743 dari Amerika Serikat dilepaskan
setelah penyerahan diri
Jepang, tahanan Cina yang dilepas hanya 56 orang.[317]
Menurut sejarawan Zhifen Ju, sedikitnya lima
juta warga sipil Cina dari Cina utara dan Manchukuo diperbudak antara 1935 dan
1941 oleh Dewan Pembangunan Asia Timur, atauKōain,
untuk bekerja di pertambangan dan industri perang. Setelah 1942, jumlah ini
mencapai 10 juta orang.[318] U.S. Library of Congress
memperkirakan bahwa di Jawa, antar 4 dan 10
juta romusha (bahasa Indonesia:
"buruh manual"), dipaksa bekerja oleh militer Jepang. Sekitar 270.000
buruh Jawa dikirim ke wilayah pendudukan Jepang lain di Asia Tenggara, dan
hanya 52.000 orang yang pulang ke Jawa.[319]
Pada tanggal 19 Februari 1942, Roosevelt
menandatangani Perintah Eksekutif 9066 yang menahan
ribuan orang Jepang, Italia, Jerman
Amerika, dan sejumlah emigran dari Hawaii yang mengungsi setelah
pengeboman Pearl Harbor sampai
perang berakhir. Pemerintah A.S. dan Kanada menahan 150.000 warga Jepang
Amerika.[320][321] Selain itu, 14.000 penduduk
Jerman dan Italia di A.S. yang dianggap sebagai risiko keamanan juga ditahan.[322]
Sesuai perjanjian Sekutu pada Konferensi Yalta, jutaan tahanan perang dan
warga sipil dimanfaatkan sebagai buruh paksa oleh Uni Soviet.[323] Dalam hal Hongaria, penduduknya dipaksa bekerja untuk Uni Soviet sampai
1955.[324]
Front
dalam negeri dan produksi[sunting]
Rasio PDB Sekutu
dibandingkan dengan Poros
Di Eropa, sebelum pecah perang, Sekutu
memiliki keunggulan signifikan dalam hal populasi dan ekonomi. Pada tahun 1938,
Sekutu Barat (Britania Raya, Perancis, Polandia, dan Jajahan Britania) memiliki
populasi 30 persen lebih besar dan produk domestik bruto 30 persen lebih besar
daripada Poros Eropa (Jerman dan Italia); jika koloni disertakan dalam
hitungan, Sekutu mendapatkan keunggulan 5:1 dalam jumlah penduduk dan 2:1 dalam
PDB.[325] Di Asia pada saat yang sama,
Cina memiliki jumlah penduduk enam kali lebih banyak daripada Jepang, tetapi
PDB yang 89 persen lebih tinggi; jumlah ini berkurang menjadi populasi tiga
kali lebih banyak dan PDB 38 persen lebih tinggi jika koloni-koloni Jepang
disertakan dalam hitungan.[325]
Meski keunggulan ekonomi dan populasi Sekutu
dimanfaatkan besar-besaran selama serangan blitzkrieg awal Jerman dan Jepang,
mereka menjadi faktor penentu pada tahun 1942, setelah Amerika Serikat dan Uni
Soviet bergabung dengan Sekutu, setelah sebagian besar perang ini menjadi
perang atrisi.[326] Sementara kemampuan Sekutu
untuk melampaui produksi Poros sering dikaitkan dengan akses Sekutu yang besar
ke sumber daya alam, faktor-faktor lain, seperti keengganan Jerman dan Jepang
untuk mempekerjakan wanita dalam tenaga kerja,[327][328]pengeboman strategis oleh Sekutu,[329][330] dan peralihan terbaru Jerman
ke ekonomi
perang[331] sangat berkontribusi besar.
Selain itu, baik Jerman maupun Jepang tidak berencana mengadakan perang yang
berkepanjangan, dan tidak sanggup melakukannya.[332][333] Untuk meningkatkan produksi
mereka, Jerman dan Jepang memanfaatkan jutaan buruh
budak;[334] Jerman memanfaatkan 12 juta orang,
kebanyakan dari Eropa Timur,[310] sementara Jepang
memanfaatkan lebih dari 18 juta orang di Asia Timur Jauh.[318][319]
Pendudukan[sunting]
Partisan
Soviet digantung oleh tentara Jerman pada Januari 1943
Di Eropa, pendudukan muncul dalam dua bentuk
yang sangat berbeda. Di Eropa Barat, Utara, dan Tengah (Perancis, Norwegia,
Denmark, Negara-Negara Hilir, dan wilayah
Cekoslowakia yang dianeksasi), Jerman menerapkan kebijakan ekonomi
yang berhasil mengumpulkan 69,5 miliar reichmark (27,8 miliar dolar AS) pada
akhir perang; jumlah ini tidak meliputi perampokan produk
industri, perlengkapan militer, bahan mentah, dan barang-barang lain.[335] Dari situ, pendapatan yang
muncul dari negara-negara pendudukan mencapai 40 persen dari pendapatan yang
dikumpulkan Jerman dari pajak, jumlah yang meningkat hampir 40 persen dari
total pendapatan Jerman sepanjang perang.[336]
Di Timur, keuntungan yang diharapkan
dari Lebensraum tidak
pernah didapatkan karena garis depan yang berfluktuasi dan kebijakan bumi hangus Soviet memusnahkan sumber
daya bagi para penjajah Jerman.[337] Tidak seperti di Barat, kebijakan ras Nazi mengizinkan kekejaman
berlebihan terhadap "orang
inferior" keturunan Slavik; sebagian besar serbuan Jerman
disertai denganeksekusi massal.[338] Meski kelompok pemberontak berdiri di hampir
semua teritori pendudukan, mereka tidak mengganggu operasi Jerman baik di Timur[339] maupun Barat[340] sampai akhir tahun 1943.
Di Asia, Jepang menyebut negara-negara di
bawah pendudukannya sebagai bagian dari Lingkup Persemakmuran Asia Timur Raya, yang
pada dasarnya merupakan hegemoni Jepang yang
diklaim bertujuan membebaskan bangsa yang dikolonisasi.[341] Meski pasukan Jepang awalnya
disambut sebagai pembebas dari dominasi Eropa di sejumlah daerah, kekejaman
mereka yang berlebihan mengubah opini publik menjadi menentang mereka dalam
hitungan minggu.[342] Selama penaklukan awal
Jepang, negara ini mencaplok 4.000.000 barrel (640,000 m3)
minyak (~5.5×105 ton) yang ditinggalkan oleh pasukan Sekutu
yang mundur, dan pada tahun 1943 Jepang mampu merebut produksi minyak di Hindia
Timur Belanda hingga Templat:Bbl
to t, 76 persen dari tingkat produksinya tahun 1940.[342]
Kemajuan
teknologi dan peperangan[sunting]
Pesawat terbang dimanfaatkan sebagai alat
mata-mata, pesawat tempur, pengebom,
dan bantuan darat, dan masing-masing perannya memperoleh kemajuan yang berarti.
Inovasi-inovasi yang muncul meliputi pengangkutan
udara (kemampuan memindahkan suplai, perlengkapan, dan personil
berprioritas tinggi dan terbatas dalam waktu singkat);[343] danpengeboman
strategis (pengeboman kawasan berpenduduk untuk menghancurkan
industri dan moral).[344] Persenjataan antipesawat juga dikembangkan, termasuk
pertahananradar dan artileri darat-ke-udara,
seperti senjata
88 mm Jerman. Pemakaian pesawat jet dimulai dan meski
pengenalannya yang terlambat memberi sedikit pengaruh, pesawat jet kelak
menjadi standar angkatan udara di seluruh dunia.[345]
Kemajuan dibuat di hampir segala aspek
pertempuran laut, terutama kapal angkut pesawat (kapal induk) dan kapal selam.
Meski sejak awal perang, peperangan udara menuai sedikit kesuksesan, berbagai
aksi di Taranto, Pearl Harbor, Laut Cina Selatan, dan Laut Koral membuat kapal
induk dianggap mampu menggantikan kapal perang.[346][347][348]
Di Atlantik, kapal
induk pengawal terbukti memainkan peran penting dalam konvoi
Sekutu dan meningkatkan radius perlindungan efektif serta membantu
menutup celah
Atlantik Tengah.[349] Kapal induk juga lebih
ekonomis daripada kapal perang karena biaya produksi pesawat yang relatif
rendah[350] dan tidak perlu diperkuat
habis-habisan.[351] Kapal selam, terbukti
merupakan senjata efektif pada Perang Dunia Pertama,[352] diantisipasi oleh semua pihak
sebagai sesuatu yang terpenting nomor dua. Britania memfokuskan
pengembangan persenjataan dan taktik antikapal selam, seperti sonar dan
konvoi, sementara Jerman berfokus pada memperbarui kemampuan serangannya dengan
desain sepertikapal selam Tipe VII dan taktik wolfpack.[353] Secara perlaham, teknologi
baru Sekutu seperti sinar
Leigh, hedgehog, squid,
dan torpedo
lacak terbukti unggul.
Peperangan darat berubah dari garis depan
statis pada Perang Dunia I ke peningkatan mobilitas dan senjata
gabungan. Tank, yang sering dipakai
untuk membantu infanteri saat Perang Dunia Pertama, berubah menjadi senjata
utama.[354] Pada akhir 1930-an, desain
tank lebih maju dibandingkan saat Perang Dunia I,[355] dan kemajuan terjadi sepanjang perang melalui
peningkatan kecepatan, pertahanan, dan daya tembak.
Saat perang dimulai, kebanyakan komandan
menduga tank musuh harus bertemu tank dengan spesifikasi yang lebih hebat.[356] Ide ini ditantang oleh
performa buruk senjata tank awal yang relatif ringan melawan kendaraan lapis
baja, dan doktrin Jerman menghindari pertempuran tank-versus-tank. Hal ini,
bersama pemakaian senjata gabungan oleh Jerman, termasuk di antara leemen kunci
kesuksesan taktik blitzkrieg mereka di Polandia dan Perancis.[354] Banyak cara untuk menghancurkan
tank, termasuk dengan artileri tidak langsung, senjata
antitank (baik yang ditarik maupun gerak sendiri), ranjau,
senjata antitank infanteri jarak pendek, dan bahkan tank lain pun
diikutsertakan.[356] Bahkan dengan mekanisasi
besar-besaran, infanteri masih merupakan tulang punggung seluruh pasukan,[357] dan sepanjang perang,
sebagian besar infanteri memiliki perlengkapan yang sama seperti saat Perang
Dunia I.[358]
Senjata mesin portabel meluas, seperti MG42 Jerman
dan berbagai senjata
submesin yang dimodifikasi untuk pertempuran jarak dekat di
perkotaan dan hutan.[358] Bedil
serang, sebuah pengembangan akhir perang yang mencakup berbagai
fitur bedil dan senjata submesin, menjadi senjata standar infanteri pascaperang
untuk sebagian besar angkatan bersenjata.[359][360]
Sebagian besar pihak yang terlibat berupaya
memecahkan masalah kompleksitas dan kerumitan yang muncul dari pemakaian buku
kode besar untuk kriptografi dengan memakai mesin sandi,
yang paling terkenal adalah mesin Enigma Jerman.[361] SIGINT (signals intelligence)
adalah proses melawan dekripsi yang pernah dipakai oleh Sekutu untuk
memecahkan kode
laut Jepang[362] dan Ultra dari
Britania Raya, berasal dari metodologi dari Polish
Cipher Bureau, yang berhasil mengungkap Enigma selama tujuh tahun
sebelum perang.[363] Aspek lain intelijen militer adalah pemakaian kebohongan, yang berhasil dipakai oleh Sekutu
dengan kesuksesan besar seperti dalam operasi Mincemeat danBodyguard.[362][364] Kemajuan teknologi dan
rekayasa lainnya tercapai sepanjang atau setelah perang, termasuk
komputer-komputer terprogram pertama di dunia (Z3, Colossus, dan ENIAC), misil pandu dan roket
modern, pengembangan senjata nuklir Proyek Manhattan, penelitian
operasi dan pengembangan pelabuhan
buatan dan jalur
pipa di bawah Selat Inggris.[365]
Subscribe to:
Comments (Atom)































